Wednesday, December 7, 2011

Terhubung ke Langit

Dengan nama Allah Ar Rahman Ar Rahim.

Perkongsian kali ini, tajuk satu subtopic dlam buku yang sedang saya mujahdah untuk habiskan. *al-maklum tengah bercuti nie.macam-macam virus datang menyerang*

Ayuh kita reflect diri sekejap, bagaimana hubungan kita dengan Allah. Terutamanya buat diri saya sendiri yang setelah beberapa minggu mnjejakkan kaki di bumi Malaysia.

Hubungan dengan Allah?
Dial up *yang supper duper slow* atau broadband?
Tepuk dada tanya iman, boleh jawab sndiri2 dlam hati.

..................................
Baca dengan mata hati yuk! 

Terhubung ke Langit

“ Seharusnya dia beroleh istirehat di malam hari. Siang demi siang terasa panjang. Ke sana kemari dia susuri Makkah dari ujung lain ke ujung satu, berbisik dan berseru. Dia ajak orang satu demi satu, kabilah suku demi suku untuk mengimani risalah yang diamanahkan kepadanya.


                Dia kadang terlihat di puncak Safa, membacakan ayat-ayat yang dibalas caci maki dan hinaan menjijikkan dari pak ciknya sendiri. Dia kadang harus pergi, meninggalkan satu kaum dengan dilempari batu dan kotoran sambil diteriaki GILA! DUKUN! PENYAIR! PENYIHIR!.

                Dia kadang sujud di depan Ka’bah, lalu seseorang akan menuangkan setimba isi perut unta kekepalanya, atau menjeratkan selendang ke lehernya di saat ruku’nya. Dia kadang harus menangis dan mendiamkan ketakberdayaannya di saat melihat sahabat-sahabat seperjuangan yang lemah dan disiksa di depan mata. Kejam dan keji!

                Dia sangat lelah. Jiwa mahupun raga. Dia sangat payah. Lahir mahupun batin. Tenaganya terkuras. Luar mahupun dalam. Seharusnya dia beroleh istirehat di malam hari, meski gundah gulana tetap menghantuinya. Tetapi, saat Khadijah membentangkan selimut untuknya dan dia mulai terlelap dalam hangat, sebuah panggilan langit justeru memaksanya terjaga.

                “ Hai orang yang berselimut. Bangunlah di malam hari kecuali sedikit. Separuhnya atau kurangilah yang separuh itu sedikit. Atau tambahlah atasnya, dan bacalah Al-quran dengan tartil” (QS AlMuzammil, 73:1-4)

Untuk apa?

                “ Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat” (QS AlMuzamil,73:5)

Seberat apa?

                “Kalau sekiranya Kami menurunkan Al Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk dan terpecah berantakan disebabkan takut kepada Allah” (QS Al Hasyr,59:21)

                Itu kalimat yang berat. Itu beban yang berat. Beban yang gunung-gunung tak sanggup menanggungnya. Beban yang dihindari oleh langit dan bumi. Dan Muhammad harus menerimanya. Dia harus menanggungnya. Maka hatinya harus lebih kokoh dari gunung. Maka jiwanya harus lebih perkasa dari bumi. Maka dadanya harus lebih lapang daripada lautan. Kerana itu dia harus bangun di waktu malam untuk menghubungkan diri dengan sumber kekuatan yang Maha Perkasa.

                Maka sang nabi pun bangkit, dan solat.

                Solat itu kewajipan baginya. Solat itu menjaga nya dari kemungkaran dan kekejian.
               Dia ruku’. Maha agunglah Allah dan dia memuji Ilahi. Lalu Allah mendengarkan orang yang memujiNya, dan menjawab derap-derap permohonannya yang menggelora.
               Dia sujud. Maha tinggi Allah. Dan dia merasakan betapa dekatnya, betapa mesranya, betapa asyiknya bicara pada rabbnya dalam hening, mengadu, berkeluh, berkesah tentang segalanya. Tentang beratnya tugas, tentang lemahnya daya dan kekuatan.

                Lalu dia memohon kekuatan agar mamou menanggung amanah itu. “Ya Rabb”, lirihnya, “ Kepadamu kuadukan lemahnya dayaku,kurangnya siasatku, dan kehinaanku di hadapan manusia. Wahai Yang paling Penyayang di antara para penyayang, Engkau lah Rabb orang-orang yang lemah. Engkaulah Rabbku.. Aku berlindung dengna cahaya wajahMu yang menyinari segala kegelapan dan yang kerananya urusan dunia dan akhirat menjadi baik, agar Engkau tak menurunkan murkaMu kepadaku. Tiada daya dan kekuatan kecuali dariMu. "

                Maka Allah menjawabnya, mencurahkan rahmat kepadanya sebagai cinta dari langit untuk ditebarkan di bumi.

                “ Maka disebabkan rahmat dari Allah lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap kasar lagi berkeras hati, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu” ( QS Al Imran,3:159)

                Dalam dakapan ukhwah, kita rindu mewarisi keteguhan Sang Nabi. Dalam dakapan ukhwah, kita rindu dicurahi rahmatNya hingga mampu berlemah lembut pada sesama. Dalam dakapan ukhwa, kita berharap tak ada yang lari dari sisi kerana kekerasan hati ini. Dalam dakapan ukhwah kita berambisi dipuji Allah seperti Sang Nabi, “ Sesungguhnya engkau berada di atas akhlak yang agung.”

                Maka dalam dakapan ukhwah kita pun bangkit, menegakkan solat dan mengundang cintaNya dengan segenap ketaatan yang terjamgkau oleh kemampuan kita.

               Orang-orang yang terhubung ke langit, adalah orang-orang yang menanggung beban untuk membawa manusia ke jalan cahaya. Mereka menjadi manusia-manusia dengan ketahanan menakjubkan. Mereka menjadi orang-orang yang paling teguh hati, paling lapang dada, paling sabar, paling lembut, paling ramah, paling santun, paling ringan tangan. Keterhubungan dengan langit itu yang mempertahankan mereka di atas garis edar kebajikan, sebagai bukti bahawa merekalah wakil sah kebenaran.

                Dalam dakapan ukhwah, Allah jadikan mereka sebagai teladan bagi kita. Kisahnya diulang-ulang untuk menguatkan hati kita..

DALAM DAKAPAN UKHWAH!

...................................................................

Hubungan dengan Allah.
Resipi kejayaan rasulullah mnjadi manusia pling agung akhlaknya. Menjadi manusia yang punya ketahanan yang menakjubkan!
Apa resipinya? HUBUNGAN DENGAN ALLAH.



Bagaimana pula dengan diri kita?
Terjagakah hubungan kita dengan Allah dalam hari-hari yang kita lalui.


Di saat semangat mulai luntur, di saat diri mulai malas, di saat kepenatan dan kelelahan mulai datang menghampiri, ayuh semak kembali bagaimana hubungan kita dengan Allah.
Sejauh mana iman ini benar-benar teguh untuk ‘push’ diri kita untuk terus bangun dan teruskan perjuangan.

Ikhwah akhwat fillah,
Jangan kerana kelalaian kita yang sedikit menyebabkan orang lain tak dapat merasai manisnya tarbiyah. Nikmatnya ukhwah. Indahnya merasai hidup dalam naungan islam dan iman. Insya'Allah.

Ayuh! Mari bekerja untuk Allah~ Demi cinta dan redhaNya. :)



Dari insan dhoif.

3 comments:

sHeRa_ShErA said...

Salam.boleh sy tau tajuk lagu utk blog ni ape ye?? syukran..

~SEORANG HAMBA~ said...

w'sllm ya ukhti.
tjuk lagu heartsong by talib al habib. ^_^

widiyanto wahyu said...

blognya keren,,,, barakaAllah